Friday, October 14, 2011

Perjuangan, Bimbingan Laporan

JOGJA.24/10/2011. Ku awali hari ku dengan membuka mata pada pagi hari yang penuh semangat, di bekali rasa percaya diri untuk menghadapi langkah demi langkah untuk menyelesaikan laporan ini.

Dengan ditemani seorang yang sangat istimewa aku pergi menyambangi jalan 7km untuk menuju suatu perguruan tinggi. senang, canda, bergembira, yang aku rasakan pada perjalanan yang singkat itu,. seolah hati terasa ingin cepat sampai menuju tujuan untuk mengajukan revisi laporanku. sebelum akhirnya aku sampai,.
ternyata aku lupa, tidak membawa data laporanku yang akan aku cetak, serasa dongkol sekali karna perjalanan yang hampir sampai kampus, satu sisi pacarku mo kuliah, bingung hatiku... marah ku pada kecerobohan ku...
ku pikir mending ku balik ke rumah ambil data ku... ku semangat, ku pacu sepeda motor ku, dengan harapan aku biisa ambil dataku...
alhamdulillah.. sudah ku ambil dataku.. dengan perlahan tapi pasti ku kejar waktuku dengan menggebu perjalanan ke kampus....

Setelah memasuki daerah kampus, terlihat rombongan petugas PLN sedang sibuk dengan satu tiang listrik dekat kampus, hati bertanya ada apa? tapi ku tak menghiraukan semua itu.. aku memasuki rental komputer untuk mencetak laporan ku... ternyata dengan lemas si penjaga rental mengatakan bahwa mati listrik,...

uuuggghhhhh..... "pengen cepet lulus kok pantangannya gini banget ya allah.." ku rasakan ini hanya sebuah cobaan untuk mengetes sejauh mana keteguhanku dalam menyusun laporan ini..
tak menyerah... ku cari rental yang jauh dari daerah kampus... ternyata ada.... namun tampak sesak para pengantri untuk menggunakan jasa rental tersebut... ku hanya melihat, tak mau ketinggala ku putuskan ikut antri.... setelah sekitar 1/2 jam ku antre, dan hati tak sabar terlihat 1 orang di depanku.... dengan semangat sang punya rental mengatakan "maaf mas... komputernya harus dimatiin semua".... ku tersenyum pahit mendengar kabar itu.... lagi lagi ku hanya berfikir ini adalah cobaanku, untuk laporan ku....

Kuputuskan ke kampus dengan tidak membawa laporan untuk bimbinga,... alhamdulillah listrik sudah nyala., aku pun dengan cepat mencetak laporanku..

09.32 aku memasuki kampus.. dengan langkah pasti memasuki ruangan dosen untuk melakukan bimbingan... dan ternyata dosen pembimbingku tidak ditempat... lemes bangat rasanya...
Dengan tak semangat, aku keluar dari ruangan dosenku.. seolah perjuangan pagi ini sia sia... huuuuffttt,.... ku putuskan untuk menunggu didepan ruangannya...

09:58 terlihat seorang bapak-bapak dengan badan tinggi berkacamata keluar dari sebuah ruangan,,... alhamdulillah itu dosen ku... ku ucap..

Aku bimbingan dengan penuh semangat,.. semua perjuangan terasa terbayas engan hasil bimbingan "lengkapi laporan dengan abstrk dan lampiran"...


Itu perjuangan yang ku sirat pada wadah ini... untuk sekedar mencurahkan rasa yang munkin tak akan ku lupakan..

Wednesday, October 12, 2011

MOHON Pada MU

Malam ini sangat menggelisahkan hambamu ini ya allah...
satu sisi melihat temen saya yang sudah bekerja menjadi forman, sedangkan saya mengerjakan laporan TA yang masih terlunta - lunta.... berikan petunjukmu untuk dapat menfokuskan permasalahan ini seingga selesai dengan tepat pada waktunya ya ALLAH....

Monday, April 25, 2011

NII cuci otak



GRESIK, KOMPAS.com - Korban cuci otak gerakan Negara Islam Indonesia, Agung Arief Perdana Putra selama sebulan menghilang untuk menenangkan diri. Dia ingin menyepi untuk menenangkan diri setelah merasa bersalah dan malu menjadi korban cuci otak gerakan NII.

<a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3126491&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=951&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a3126491' border='0' alt='' /></a>
Agung merasa dirinya sempat bimbang untuk
memutuskan apakah kembali ke rumah atau meneruskan kuliah. "Saya mau balik ke rumah saya malu karena sudah berdosa sama orangtua karena membohongi mereka. Saya tidak mau bertemu teman-teman kuliah saya lagi," katanya.

Dirinya sempat memberanikan diri kembali kuliah namun sempat dicaci maki dan dihakimi teman-temannya yang marah karena dirinya ikut mengajak delapan orang lainnya. "Bahkan saya sempat dipukul karena dianggap perekrut," tuturnya.

Bahkan saat pulang 19 Maret lalu, Agung sering mendapat telepon teror dari seseorang yang mengaku pembinanya. Akhirnya saat kembali ke Malang paa 20 Maret lalu, dia membuang nomor kartu telepon selulernya dan mengganti dengan nomor baru.

Agung sempat meng hubungi keluarga dengan nomor baru pada 15 April menyatakan bahwa dirinya di Malang dan baik-baik saja. Dia menyatakan tinggal di rumah teman yang kerja di ekspedisi.

Kondisi mental Agung juga masih labil. Dia berencana cuti kuliah atau berhenti sementara dari jurusan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang. Saat ini mahasiswa yang duduk di semester II mengaku masih trauma.

"Selama cuti kuliah saya ingin belajar di rumah untuk persiapan mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Saya mau bongkar lagi kumpulan soal masuk SNMPTN," ujarnya di rumahnya.

Agung khawatir meskipun kampusnya menerima dia kembali, tetapi dia khawatir teman-temannya mengasingkannya. Menurutnya bila bisa diterima UMPTN di tempat baru dia berharap bisa lebih fresh dengan suasana baru yang lebih menyenangkan.

Agung merasa lebih tenang berkumpul bersama keluarga. Ayahnya Rasyidi Syamsul Arifin dan ibunya Rahayu Kunti Andari sangat mendukung dan berharap Agung bisa kembali kuliah di Unmuh Malang. Sebab biaya yang sudah dikeluarkan tidak sedikit dan sayang bila tidak diteruskan. Tetapi semua bergantung Agung, dan kenyamanannya dalam menempuh pendidikan.

Ayahnya Sempat Putus Asa

Orangtua dan kerabat Agung bahagia Agung kembali dan bersyukur kepada Tuhan. Mereka juga berterimakasih kepada pihak kampus dan kepolisian serta semua pihak yang membantu menyadarkan Agung hingga mau kembali ke rumah.

Rasyidi hanya bisa pasrah dan nyaris putus asa. Dia mengikhlaskan anak pertamanya yang menghilang sejak 20 Maret lalu. Keluarganya akan menggelar selamatan dan doa bersama agar hati Agung tergerak dan terbuka untuk kembali pulang.

Keluarga mencari keberadaan Agung dengan berbagai cara mulai melacak di kampus, hingga minta tolon orang pintar, hingga melacak melalui jejaring sosial.

"Saya hanya bisa pasrah dan sempat ingin berhenti bekerja. Saya bekerja untuk anak dan keluarga. Saya pikir buat apa bekerja jika anak menghilang dan menyimpang,' kata Rasyidi.

Beruntung rekan kerja Rasyidi di pabrik kawasan Gedangan Sidoarjo meyakinkan jika anak merupakan amanah dan titipan Tuhan. Jika memang Agung dititipkan kepadanya pasti akan kembali. Akhirnya rencana menggelar selamatan pada Minggu (24/4/2011) agar Agung kembali dibatalkan, dan akan diganti syukuran. Agung telah kembali duluan pada Sabtu (23/4/2011) pukul 23.30 lalu.

Setelah ini keluarga berencana membawa Agung ke psikiater untuk memulihkan kondisi kejiwaa Agung. Selama ini Agung selalu dihantui ketakutan serta untuk menghilangkan ajaran-ajaran yang pernah diikuti anaknya.

Setelah ini kemana Agung keluar akan ada pihak keluarga yang mendampingi. "Sekarang biar dia tenang dulu. Meski tidak banyak berubah tapi ada sedikit kebiasaannya yang hilang yakni dulunya sering bicara dan terbuka. Tapi sekarang lebih banyak diam," tutur Rasyidi.